Hit Counter :
615917
  • 27 Januari 2006 - 02:31:44 PM

    Alat Bantu Perencanaan Jaringan SDH

    Abstrak: Kebutuhan bandwidth yang tumbuh pesat seiring pertumbuhan trafik data seperti Internet, intranet, dan aplikasi multimedia mendorong terjadinya evolusi yang cukup cepat di sisi teknologi jaringan transport yang dengan cepat memasuki orde Gbit/s bahkan orde Tbit/s. Inovasi di bidang transpor ini didahului oleh penemuan teknologi SDH yang kemudian berlanjut ke teknologi optik DWDM. Perencanaa yang matang untuk penerapan kedua teknologi ini akan berperan dalam keberlangsungan pemberian layanan yang handal kepada pelanggan secara kontinu. Salat satu alat Bantu perencanaan yang sudah ada dan dimiliki TELKOM saat ini adalah alat Bantu perencanaan jaringan SDH. Alat bantu ini mendukung implementasi sistem proteksi jaringan transmisi yang handal.

    Kemampuan delivery bandwidth teknologi transmisi saat ini cukup besar. Teknologi SDH mencapai STM-64 (10 Gbps) dan DWDM n x 2,5 Gbps atau n x 10 Gbps (dimana n adalah jumlah panjang gelombang. Kemampuan yang besar ini juga diikuti dengan resiko hilangnya informasi yang cukup besar pada saat terjadi failure di jaringan. Hal ini tentu tidak dikehendaki, karena terjadinya failure juga berarti hilangnya pendapatan dan kesempatan. Untuk itu jaringan transmisi ini harus ditingkatkan kehandalannya dengan menerapkan sistem proteksi yang akan berperan secara aktif pada saat terjadinya failure dengan mengalihkan trafik aktif ke disain backup-nya yang telah ditetapkan. Kemudahan dan kelancaran proses disain dan implementasi proteksi akan sangat terbantu dengan adanya alat bantu perencanaan, dimana saat ini yang sudah dimiliki oleh TELKOM adalah alat bantu perangkat perencanaan SDH.

    Alat bantu perencanaan Jaringan SDH digunakan untuk membantu perencana jaringan dalam melakukan pengembangan disain jaringan Synchronous Digital Hierarchy (SDH). Solusi yang dihasilkan oleh Perangkat Disain Jaringan SDH akan lebih efisien dan lebih efektif ditinjau dari segi biaya dan bahan dibandingkan dengan perencanaan jaringan yang dilakukan secara manual. Perangkat Disain Jaringan SDH melakukan hal-hal berikut:

    1. Mengakomodasikan kemampuan proteksi jaringan SDH, yaitu proteksi ring guna mendapatkan solusi dengan biaya minimum dengan pembebanan yang seimbang dalam jaringan, dan tetap menjaga tingkat kemampuan proteksi terhadap failure.

    2. Mengakomodasikan biaya upgrading perangkat dan biaya penambahan perangkat

    3. Mengidentifikasi inkompabilitas persyaratan survivabilitas dengan topologi jaringan

    4. Pengalokasian demand untuk menspesifikasikan sistem SDH yang digunakan (Arsitektur Proteksi).

    Alat bantu perencaaan ini mempertimbangkan penempatan perangkat dengan menggunakan kombinasi arsitektur jaringan transport untuk menghasilkan suatu solusi tunggal disain jaringan. Model dan biaya yang dikeluarkan untuk arsitektur transport diolah dengan suatu algoritma yang terdapat dalam perangkat ini. Algoritma ini dipakai untuk mengindikasikan dimana suatu sistem sebaiknya ditempatkan.

    Gambar 1. Tampilan Awal Alat Bantu Perencanaan SDH

    Platform yang digunakan pada alat bantu perencanaan SDH ini adalah:

    Operating system : Unix

    SUN Server clients

    Aplikasi Software Client server :Exceed 5

    A. Kebutuhan Data

    Untuk menunjang proses kerja alat bantu perencanaan SDH ini dibutuhkan beberapa data input. Berikut data-data input yang diperlukan:

    1. Demand Point-to-point (dan tingkat skala prioritasnya dalam jaringan)

    2. Spare Bandwidth dalam tiap link

    3. Data perangkat multiplekser yaitu data jenis multiplekser yang dipertimbangkan untuk digunakan dalam disain jaringan.

    4. Biaya perangkat, yaitu harga yang diberlakukan tiap-tiap perangkat yang digunakan dalam proses disain jaringan.

    5. Time Period , suatu fasilitas yang memungkinkan untuk melakukan disain jaringan yang dilakukan secara multiperiod.

    6. Biaya Upgrade Multiakses yaitu harga upgrade yang diberlakukan tiap-tiap perangkat yang digunakan dalam proses disain jaringan.

    Gambar 2. Input Matrix Demand Point-to-point

    Dengan melakukan eksekusi data-data diatas yang telah diinputkan dan dengan mempertimbangkan model dan biaya yang dikeluarkan untuk tiap arsitektur yang diolah dengan suatu algoritma yang terdapat dalam perangkat ini, maka sistem akan menghasilkan output berupa teks report yang terdiri dari beberapa topik yaitu:

    1. Summary

    Berupa ringkasan dari data input sistem dan solusi yang dihasilkan oleh perangkat untuk seluruh disain jaringan yang dipilih.

    2. Sistem

    Informasi sistem dan arsitektur yang terbentuk setelah melalui proses pengolahan sesuai algoritma dalam alat bantu perencanaan. Informasi yang ditampilkan meliputi informasi sistem point-to-point, ring dan detail yang diperlukan untuk tiap sistem terbentuk.

    3. Demands

    Informasi pengalokasian demand point-to-point, berdasarkan masukan matrix demand point-to-point dan informasi penelusuran demand tertentu yang melewati multi sistem.

    4. Node

    Informasi di suatu node tertentu (lokasi tertentu), termasuk biaya dan informasi sistem yang melintasi node tersebut.

    5. Hubs

    Informasi mengenai node yang difungsikan sebagai hub.

    6. Link

    Informasi tentang data dan informasi link dan alokasi demand pada tiap link.

    Gambar 3. Contoh Tampilan Output Alat Bantu Perencanaan SDH

    B. Variasi Tipe Sistem Proteksi

    Proteksi perangkat pada dasarnya dibedakan menjadi dua yaitu proteksi 1+1 dan proteksi 1:1. Namun di lapangan dapat diimplementasikan alternatif teknik proteksi yang lain yaitu proteksi 1+N dan proteksi 1:N. Pemilihan sistem proteksi pada ujungnya akan disesuaikan dengan jenis toplogi yang diimplementasikan dalam jaringan (Point-to-point dan ring( Sistem Proteksi Transmisi NGN, Akhmad Ludfy, Gematel, Tahun 2005))

    Gambar 4. Proteksi perangkat 1+1 pada saat aktif dan pasif

    B.1 Point-to-Point

    Pada topologi ini trafik diangkut melewati suatu rangkaian seri node-node yang terinterkoneksi antara satu dengan lainnya. Trafik berisi sinyal seperti voice, data, dan video dapat di-insert atau dicuplik oleh node manapun dalam rangkaian. Dua terminal ujung disebut dengan terminal node dan dapat berupa terminal multiplekser (SDH/DWDM). Adapun tipe proteksi point-to-point yang umum digunakan adalah:

    1. Single Homing

    2. Dual Homing

    3. Single Path

    4. Diverse Path

    B.2 Ring

    Jaringan ring menghubungkan beberapa node ADM (Add/Drop Multiplexer) dalam sebuah loop tertutup. Konfigurasi ini memiliki kehandalan dalam hal proteksi yaitu dengan mekanisme self healing yang dapat beroperasi dengan cepat (< 50 ms) apabila terjadi gangguan pada jaringan. Adapun tipe proteksi ring yang umum digunakan adalah:

    1. Dua Fiber Unidirectional Ring Proteksi Path

    2. Dua Fiber Unidirectional Ring Proteksi MS

    3. Dua Fiber Bidirectional Ring Proteksi Path

    4. Dua Fiber Bidirectional Ring Proteksi MS

    5. Empat (4) Fiber Bidirectional Ring

    B.3 Sembilan Tipe Arsitektur Alat Bantu

    Ada sembilan Tipe Arsitektur SDH yang dipertimbangkan untuk digunakan pada disain jaringan Perangkat Disain Jaringan SDH. Tipe-tipe ini dibedakan dalam hubungan antara node ke node yang lainnya, dalam hal arah sinyal yang ditransmisikan dalam ring, maupun dalam hal jumlah fiber dalam ring (lihat Sistem Proteksi Transmisi NGN, Akhmad Ludfy, Gematel, Tahun 2005). Kesembilan tipe tersebut adalah :

    1. Ring Unidirectional Dua Fiber

    2. Ring Bidirectional Dua Fiber

    3. Ring bidirectional Empat Fiber

    4. Sistem Point-to-ADM (Dual Homing)

    Gambar 5. Sistem Point-to-ADM (Dual Homing)

    Struktur ini mempertimbangkan:

    Untuk penentuan penempatan titik demand pada suatu ring

    Pemenuhan demand yang memerlukan proteksi

    5. Sistem Point-to-ADM (Single Homing)

    Gambar 6. Sistem Point-to-ADM (Single Homing)

    Struktur ini mempertimbangkan:

    Penentuan penempatan titik-titik demand dalam suatu ring atau tidak

    Untuk memenuhi demand yang tidak diproteksi ataupun tidak dapat diproteksi

    6. Sistem Point-to-point Diverse Path

    Gambar 7. Sistem Point-to-point diverse path

    Struktur ini mempertimbangkan:

    Pemenuhan demand yang membutuhkan proteksi

    Untuk menampilkan report sistem point-to-point

    Untuk me-link secara diverse tetapi mungkin juga node diverse

    7. Sistem Point-to-Point Single Path

    Gambar 8. Sistem Point-to-point single path

    Struktur ini mempertimbangkan:

    Untuk memenuhi demand yang tidak memerlukan proteksi ataupun tidak dapat diproteksi

    Untuk kelengkapan report hasil running SDH Architectur Selector perangkat disain jaringan SDH

    Untuk menampilkan sistem report point-to-point (CO to CO)

    8. Chain-to-ADM/plug-in

    Gambar 9. Chain-to-ADM/plug-in

    Struktur ini mempertimbangkan:

    Untuk pemenuhan arsitektur demand yang tidak memerlukan proteksi

    Untuk penempatan satu atau lebih sistem point-to-point sebagai sub path dari sistem lainnya

    Terminal sebagai chain (lihat gambar) pada sebuah ADM (bagian dari sistem lain)

    9. Chain-to-Terminal Mode

    Gambar 10. Chain-to-terminal mode

    Struktur ini mempertimbangkan:

    Untuk memenuhi demand yang tidak memerlukan proteksi atau tidak dapat diproteksi

    Untuk penempatan satu atau lebih sistem point-to-point sebagai sub path dari sistem lainnya

    Terminal sebagai chain (lihat gambar) pada sebuah ADM (bagian dari sistem.

    Dari sembilan arsitektur diatas masing-masing memiliki kelebihan, namun yang memiliki survaiabilitas 100% adalah arsitektur-arsitektur bertipe ring. Pemilihan implementasi tipe proteksi ring atau point-to-point akan sangat tergantung pada kondisi di lapangan, terutama terkait ketersediaan alternative link dan prioritas trafik yang akan diproteksi.

    Alat bantu perencanaan jaringan SDH ini telah digunakan di lingkungan internal TELKOM untuk keperluan disain jaringan backbone, regional dan simulasi arsitektur optimal untuk beberapa alternatif di suatu jaringan. Untuk masa mendatang alat bantu ini masih relevan untuk digunakan sebagai alat bantu perencanaan jaringan di suatu area.

    Kesimpulan

    Berdasarkan uraian diatas, karena dari seluruh tipe tersebut tidak ada yang terbaik untuk semua kondisi, maka salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mendekati pilihan sistem proteksi yang ideal adalah melalui simulasi dengan bantuan alat bantu perencanaan SDH yang akan mempertimbangkan besar trafik, jumlah node dan sebaran/jarak antara node.

    Akhmad Ludfy, Penulis adalah salah seorang engineer lab transport TELKOM RisTI- PT TELKOM yang terlibat dalam kegiatan assessment teknologi jaringan transport, khususnya jaringan optik dan jaringan data. Dilibatkan dalam beberapa proyek antara lain: strategi Implementasi softswitch TELKOM, Penyusunan Standard System dan Rilis Teknologi Softswitch.

    Referensi:

    1. Akhmad Ludfy, Proteksi Transmisi NGN, Gematel, Tahun 2005

    2. Akhmad Ludfy, Mustapa W, WDM Menuju Jaringan Masa Depan, Lab Transport DIVRisTI, Bandung-Indonesia, Tahun 1999

    3. Mike Sexton & Andy Reid, Transmission Networking: SONET and The Synchronous Digital Hierarchy, Artech House Boston London, 1992.

    4. Riset Strategi Evolusi PSTN Ke NGN, 2002, RisTI-ITB

    5. Long Term Network Configuration Project, TELKOM-Sofrecom.

    Disclaimer: Isi diluar tanggung jawab Redaksi

Arsip Artikel



Data 1 - 4 of 105 [Total 27 Pages]